Mewaspadai Flu Burung

Dalam tahun ini, di wilayah saya sudah terjadi 3 kasus yang dicurigai sebagai kasus avian influenza, atau dikenal juga sebagai flu burung. Kasus-kasus flu burung memang pada umumnya hanya terjadi pada burung/unggas, namun untuk beberapa jenis seperti H5N1 dan H7N9 diketahui juga dapat menular pada manusia dan menyebabkan penyakit menyerupai influenza (influenza-like syndrome) yang bisa bersifat ringan hingga mematikan. Karena sifatnya yang bisa mematikan inilah, dunia kesehatan kita selalu berusaha mewaspadai munculnya penyakit flu burung di tengah masyarakat.

Kasus flu burung termasuk kasus yang ditakuti oleh masyarakat kita, karena memiliki banyak dampak. Pada virus-virus dengan sifat patogenesitas yang tinggi, virus dapat menyebar dengan cepat dan menyebabkan 100% kematian unggas dalam 48 jam. Bayangkan jika sebuah peternakan unggas terserang virus ini, kerugian secara materiil sudah tentunya tinggi, belum lagi jika virus itu juga bisa menyebabkan kondisi subklinis pada manusia. Jika patogenesitas virus rendah, mungkin juga bisa menyebabkan wabah pada unggas, namun tidak sampai menyebabkan penyakit yang serius atau kematian.

Karena potensi mematikannya ini, maka kita acap mendengar kampanye guna mewaspadai jika ada unggas yang mati mendadak. Mulai dari tidak menyentuh bangkai unggas-unggas yang mati mendadak, bagaimana memusnahkan mereka, dan menjaga kebersihan lingkungan secara spesifik. Mungkin di wilayah kita memang sering ada unggas mati mendadak, atau sakit terlebih dahulu, tapi tetap saja kita tidak boleh lengah atau meremehkan situasinya.

Poster Kampanye Flu Burung
Poster kampanye bank dunia masalah kewaspadaan terhadap avian influenza (AI), terutama bagi anak-anak yang ada di sekitar peternakan unggas.

Dunia kesehatan sendiri mewaspadai kasus avian influenza pada manusia karena potensi perburukan kondisi yang terjadi dengan cepat, dan sering berakhir dengan kematian.

Berbeda dengan flu musiman yang memiliki masa inkubasi relatif pendek, flu burung memiliki masa inkubasi yang relatif agak panjang, sekitar 2 hingga 8 hari. Gejala yang muncul tentu saja menyerupai gejala flu, biasanya dengan demam yang tinggi di atas 38 °C disertai batuk dan nyeri tenggorokan. Gejala lain seperti mual, muntah, diare, nyeri perut, adalah hal yang wajar. Ada juga kasus dengan nyeri dada, sehingga menyerupai gambaran penderita serangan jantung, atau perdarahan dari gusi dan hidung (mimisan) dengan adanya nilai laboratorium yang menyerupai demam berdarah dengue.

Pada tahapan yang parah, maka gambaran penderita menjadi terkena infeksi saluran napas bawah yang semakin buruk. Muncul sesak, distres pernapasan, suara serak, pemeriksaan fisik bisa memperlihatkan usaha napas dengan suara ronki yang muncul kedua lapang paru. Foto radiologi polos bisa saja menunjukkan tanda pnumonia yang merata di kedua lapang paru. Pasien akan memerlukan alat bantu pernapasan untuk memastikan tubuhnya mendapatkan cukup suplai oksigen pada banyak kasus.

Komplikasi bisa muncul pada kondisi yang buruk, sebut saja seperti hipoksemia (tubuh kekurangan oksigen), kegagalan organ yang jamak, hingga infeksi bakteri atau jamur sebagai infeksi sekunder.

Pengobatan yang digunakan pada kasus flu burung adalah obat antivirus yang bisa mengurangi replikasi virus dan meningkatkan angka harapan hidup, seperti misalnya oseltamivir – (contoh merek dagang yang banyak digunakan di Indonesia adalah Tamiflu®). Pemberian obat ini sesegera mungkin begitu gejala muncul. Disarankan juga pada tenaga kesehatan yang kontak dengan kasus flu burung (baik pada unggas maupun orang) juga meminum obat ini. Konsultasikan pada dokter untuk dosis yang tepat baik pada anak-anak maupun dewasa.

Risiko penularan flu burung biasanya berasal dari kontak langsung antara unggas (baik yang mati, maupun yang hidup) yang terinfeksi dengan manusia. Termasuk unggas-unggas (ayam, bebek, dan sebagainya) yang berada di peternakan, pemotongan, atau di pasar yang merupakan lokasi-lokasi paling dekat dengan manusia. Namun belakangan ini, kontak langsung belum tentu ditemukan dalam penelusuran riwayat korban flu burung, sehingga para klinisi (dokter) diminta tidak berpatokan pada adanya kontak dengan unggas untuk mulai mencurigai kemungkinan infeksi flu burung.

Bagi yang tidak memiliki kekebalan, atau memiliki risiko lebih rentan terinfeksi oleh flu burung. Maka orang-orang ini selalu menjadi potensi korban wabah jika seandainya flu burung mewabah. Maka dari itu, semua masyarakat memiliki kawajiban yang setara dalam upaya mencegah flu burung menjadi pandemi.

Hal-hal sederhana seperti perilaku hidup bersih dan sehat tetap diutamakan, selalu mencuci tangan setelah bekerja, terutama di sini adalah setelah menyentuh unggas dan hewan peliharaan atau ternak lainnya. Gunakan masker jika hendak mengunjungi pemotongan hewan atau unggas. Melapor ke kepala desa/dukuh jika menemukan kasus-kasus di mana banyak unggas mati mendadak. Bersihkan kandang unggas secara berkala menggunakan disinfektan. Bagi pengetahuan Anda dengan warga lain mengenai flu burung.

Di negara kita mungkin banyak kecurigaan akan kasus-kasus flu burung. Yang menjadi masalah sering kali adalah stereotipe masyarakat dalam menghadapinya. Misalnya saja, jika ada keluarga yang anggota keluarganya meninggal karena dicurigai akibat flu burung, lantas kemudian dikucilkan. Hal ini tidak membantu mencegah penyebaran flu burung di masyarakat. Datangkan tenaga kesehatan ke wilayah Anda untuk melakukan penyuluhan jika Anda dan warga sekitar belum begitu paham mengenai masalah flu burung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s