Kesenjangan Terapi Epilepsi

Dalam presentasi sederhana beberapa pekan yang lalu, organisasi kesehatan dunia menyebut adanya kesenjangan terapi epilepsi di pelbagai belahan dunia, terutama di negara berkembang atau terkebelakang. Epilepsy Treatment Gap, demikian mereka menyebutnya. Ada sejumlah faktor yang diakui menjadi kesulitan menjembatani kesenjangan ini, dan mungkin faktor yang sama juga terdapat di negara kita.

Mulai dari kurangnya tenaga kesehatan yang mumpuni atau terlatih dalam menangani kondisi epilepsi. Negara kita luas, dan penyebaran tenaga kesehatan belum merata dengan baik. Dan di antara yang sudah menyebar, belum semua yang terlatih mengenali dan melakukan penanganan secara berkelanjutan bagi kasus-kasus epilepsi. Sehingga sering kali, kasus epilepsi harus kembali dirujuk ke lokasi yang “lebih dekat ke pusat” untuk mendapatkan tata laksana yang lebih baik.

Purple Day
Purple Day – salah satu momen global peringatan dukungan terhadap epilepsi.

Jika Anda tinggal di daerah pinggiran, di mana di sana tersedia seorang bidan atau seorang perawat, namun tidak ada tenaga dokter, apalagi tenaga dokter ahli. Daerah seperti ini akan mengalami kesulitan menangani kasus epilepsi yang terjadi pada warganya. Bukan penangan awal, namun penanganan yang berkelanjutan.

Kondisi tersebut belum ditambah kemungkinan akses terhadap obat-obat epilepsi yang terbatas atau sulit. Pengalaman saya beberapa tahun yang lalu, di pinggiran Pulau Jawa, masih terdapat lokasi yang area tersebut mengalami kelangkaan obat-obat antiepilepsi, baik yang bersifat darurat maupun yang menjadi dasar terapi jangka panjang. Di saat WHO menyatakan bahwa epilepsi yang sederhana bisa diterapi dengan baik hanya dengan biaya serendah $ 5 per tahun per orang, maka nilai sekitar lima puluh ribu rupiah per tahun itu bisa menjadi langka di beberapa daerah di negara kita.

Jika pun tersedia tenaga kesehatan dan akses obat yang baik, maka kemiskinan adalah tantangan selanjutnya. Dengan adanya universal health coverage berupa program JKN/BPJS Kesehatan di negara kita, mari berharap agar kesulitan ini dapat teratasi.

Stigma, pemahaman masyarakat, hingga prioritas pengobatan epilepsi menjadi tantangan dalam melawan kesenjangan yang berikutnya.

Saya belum pernah melihat langsung, namun dikatakan tidak semua masyarakat paham akan epilepsi. Ada yang percaya epilepsi disebabkan hal-hal yang bersifat gaib/dirasuki roh halus, ada yang percaya epilepsi menular, ada yang percaya bahwa epilepsi merupakan penyakit orang gila, sehingga penderita disembunyikan oleh keluarganya. Tidak semua masyarakat paham bahwa epilepsi adalah penyakit persarafan (neurologi) otak yang kronis, sehingga menyebabkan gangguan kelistrikan otak, dan timbul sebagai kejang.

Epilepsi sendiri banyak penyebabnya, seperti cedera kepala, komplikasi persalinan atau infeksi virus/parasit. Kadang bahkan dokter sendiri mungkin tidak bisa menentukan penyebab pastinya.

Semua kondisi ini adalah pekerjaan rumah kita bersama. Di seluruh dunia ada setidaknya lima puluh juta jiwa penderita epilepsi, dan sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, maka jumlah penderita epilepsi di negara kita tentu saja tidak sedikit.

Para penderita epilepsi, terutama yang dewasa, dan keluarga mereka, bisa belajar lebih banyak tentang epilepsi. Pusat pelayanan kesehatan dan tulisan publik dari pekerja kesehatan profesional bisa dijadikan rujukan. Berikan prioritas yang sesuai bagi pengobatan epilepsi yang berkelanjutan, sehingga potensi terburuk berupa kematian prematur bisa dihindari. Mereka yang menderita epilepsi dapat terhindar dari cedera luar ketika terjadi serangan, terhindar dari tekanan atau depresi karena stigma masyarakat, dan harapannya penderita epilepsi dapat menjalani hidup sebagaimana orang normal pada umumnya.

Pembuat kebijakan, pelayan kesehatan juga memiliki peranan dalam mendidik masyarakat mengenai epilepsi. Kesadaran masyarakat perlu digugah secara terus menerus. Peranan membangun akses kesehatan yang lebih baik tentu saja sudah menjadi cetak biru yang mesti ada di semua daerah, dan oleh semua pengampu kebijakan. Sedemikian hingga kita bisa berharap bahwa kesenjangan terapi epilepsi dapat berkurang di negeri ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s