Menyampaikan Kabar Buruk Kepada Pasien

Salah satu tantangan dokter dalam berkomunikasi dengan pasien adalah saat menyampaikan kabar buruk, ini bisa menjadi dialog yang paling ingin dihindari oleh seorang dokter. Kabar buruk tidak hanya bisa membuat pasien putus asa, namun juga menutup potensi hasil yang masih bisa diharapkan bagi pasien, jika tidak disampaikan secara baik.

Dialog dengan pasien adalah sebuah seni, menyampaikan berita yang tidak menyenangkan kepada pasien adalah sebuah bagian yang mungkin ingin dihindari. Pasien tentunya ingin menerima kabar yang baik, dan berharap tidak menerima kabar buruk. Membawa kabar buruk akan menjadi seperti membawa sebuah beban yang berat. Namun tetap harus disampaikan, sesuai dengan kehendak pasien, karena karena hal tersebut merupakan hak pasien.

Delivering Bad News
Ilustrasi seorang dokter yang menyampaikan kabar buruk pada pasiennya. Sumber gambar: news.sciencemag.org

Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan menyampaikan kabar buruk, dan dokter adalah salah satu yang dituntut untuk memiliki keahlian ini. Karena dokter selain sebagai penyembuh, juga merupakan penopang psikologis bagi pasiennya.

Saya umumnya menerapkan dalam praktik klinis formulasi SPIKES – Situasi, Pandangan, Informasi, Ketahui, Empati, dan Strategi sebagai pedoman dalam menyampaikan kabar buruk kepada pasien. Namun, apapun metode yang diterapkan, menyampaikan kabar buruk tetap memerlukan latihan, dan yang paling penting adalah memerlukan empati dan ketulusan.

Berikut adalah sejumlah video yang bisa memandu Anda dalam menyiapkan diri untuk menyampaikan kabar buruk di lingkungan dunia kesehatan:

Atau menggunakan metode SPIKES, seperti yang dijelaskan sebagai berikut:

Jika Anda memerlukan panduan lebih detil mengenai penerapan SPIKES dalam rangka komunikasi efektif di lingkungan rumah sakit, maka dokumen pedoman menyampaikan kabar buruk berikut dapat diunduh:

Pedoman Menyampaikan Kabar Buruk kepada Pasien dengan SPIKES

https://www.scribd.com/embeds/259815114/content?start_page=1&view_mode=scroll&show_recommendations=true

Hal-hal mendasar yang perlu diperhatikan adalah:

  • Seorang dokter siap.
  • Lingkungan siap, dan situasi memungkinkan.
  • Pasien siap menerima informasi, dan jika memungkinkan ada orang terdekat yang mendampingi pasien.
  • Lakukan dengan jelas (dalam bahasa yang bisa dipahami pasien dan tidak ambigu).
  • Menunjukkan empati.
  • Membiarkan pasien memilih apakah ingin mendapatkan informasi secara rinci?
  • Hargai hak pasien jika menolak mendapatkan informasi mengenai kondisinya.
  • Biarkan pasien meluapkan emosinya dalam pelbagai bentuk.
  • Temukan dan kenali emosi dan penyebab emosi pasien.
  • Beri pasien dukungan.
  • Kendalikan waktu dan keefektifan dialog.

Jika pasien dapat menerima sebuah kabar buruk, bisa berdamai dengan emosinya, maka pasien memiliki kesempatan untuk turut memutuskan langkah-langkah selanjutnya bagi dirinya, pilihan yang dimiliki, dan lain sebagainya.

Apa Anda memiliki masukkan tentang bagaimana menyampaikan kabar buruk?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s