Maknanya Dokter Keluarga

Dalam praktik sehari-hari saya, tidak jarang saya “mesti” menanyakan pada (para) pasien, “Siapa dokter keluarga Anda?” – Apalagi di era sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan BPJS Kesehatan-nya, hampir sekarang semua peserta BPJS PBI (Jamkesmas) dan BPJS non-PBI (mandiri, ASKES, Jamsostek) memiliki dokter keluarganya. Sehingga pertanyaan ini tentunya saat ini sudah tidak aneh lagi, dan Anda mungkin juga akan mendapatkan pertanyaan serupa.

Mengapa menanyakan siapa dokter keluarga seorang pasien menjadi penting bagi saya – selaku praktisi kesehatan? Karena ada banyak hal yang akan sangat membantu pasien ketika mereka benar-benar mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang optimal dari dokter keluarganya.

Zaman doctor shopping – atau berganti-ganti dokter sudah berlalu, Anda tidak perlu mengikuti kebiasaan lama ketika merasa belum sembuh lalu pindah dokter, jika masih belum sembuh maka pindah dokter lagi, dan demikian seterusnya. Hal ini bukan hanya tidak baik bagi pencatatan riwayat kesehatan Anda, namun juga bisa berdampak buruk dalam upaya perbaikan kesehatan yang diharapkan. Sehingga seorang pasien diharapkan mendapatkan akses pelayanan dari dokter keluarga yang bertanggung jawab memberikan dia layanan kesehatan tersebut.

Tidak seperti di luar negeri, di mana family medicine, dokter keluarga menjadi suatu keahlian (spesialisasi) tersendiri, dengan sekolah yang panjang; di Indonesia seorang dokter umum yang mendapatkan sertifikasi dokter layanan primer – dapat menjadi dokter keluarga.

Dokter keluarga adalah dokter praktik umum yang menyelenggarakan pelayanan primer yang komprehensif, berkelanjutan, mengutamakan pencegahan, koordinatif, mempertimbangkan keluarga, komunitas dan lingkungannya dilandasi ketrampilan dan keilmuan yang mapan.

Lalu, di mana fungsi dokter keluarga?

Dokter Keluarga
Potret ilustrasi dokter keluarga. Sumber gambar: pinegrovefamilymedicine.com

Dokter keluarga bukan sekadar dokter umum yang ketika Anda sakit ringan bisa datang untuk mendapatkan pengobatan, lalu selesai begitu saja. Walau tentu saja praktik tersebut adalah kenyataan yang terjadi dalam kesehariannya dalam hubungan dokter dan pasien. Budaya kita masih menyiratkan bahwa dokter adalah seseorang yang memberikan obat ketika sakit agar pasien bisa sembuh.

Jika kita hendak mengatakan sesuatu yang menggambarkan fungsi dokter keluarga, maka dia adalah seorang dokter umum yang langsung berhadapan dengan pasien dan masalah kesehatannya yang pertama dan utama. Terkecuali pasien sangat jelas dengan penyakitnya, biasanya mereka tidak akan langsung “lari” ke dokter ahli (spesialis), petunjuk awal selalu ke dokter umum.  Di sinilah fungsi dokter keluarga sebagai penyelenggara layanan kesehatan primer, dan ketika pasien memerlukan bantuan dokter ahli, maka dokter keluarga bertanggung jawab atas kelanjutannya – seperti memberikan masukkan mengenai layanan lanjutan (sekunder & tersier) yang bisa membantu pasien, serta memberikan rujukan yang tepat.

Tidak hanya sebatas pengobatan ketika pasien sakit; dokter layanan primer juga bertanggung jawab atas pencegahan suatu penyakit, dan berusaha meningkatkan taraf kesehatan pasien menjadi tanggung jawabnya. Dokter keluarga berperan sebagai pendidik (to educate), tapi saya rasa bukan sebagai pengajar (to teach) mengenai masalah-masalah kesehatan yang dihadapi pasien, atau berpotensi dihadapi oleh pasien suatu saat kelak. Misalnya pasien yang bermatapencaharian sebagai buruh pengangkat gabah mungkin akan berisiko menderita kelainan tulang punggung, atau pasien yang sudah menderita hipertensi sejak lama akan berisiko mengalami gagal jantung atau gagal ginjal di kemudian hari. Pasien-pasien ini perlu mendapatkan pengetahuan, namun lebih perlu lagi memunculkan kesadaran akan kesehatan mereka, sehingga hal-hal yang merusak kesehatan lebih lanjut tidak perlu muncul di kemudian hari.

Satu pasien dan pasien lainnya tidak serta merta memerlukan kebutuhan yang sama, walau memiliki keluhan kesehatan yang sama. Dokter keluarga akan melihat pasien sebagai individu, potretnya sebagai bagian dari keluarganya dan juga masyarakatnya. Karakter pasien satu dan lainnya bisa tidak sama, walau dengan sakit yang sama, kepatuhan mereka terhadap “akad” dari rencana pengobatan yang disepakati antara dokter dan pasien bisa jadi merupakan tanda tanya besar, dan keberhasilan dari layanan kesehatan bisa nirmakna. Tantangan ini besar, dan kadang merupakan kesulitan yang paling besar – dengan keterbatasan sumber daya (seperti waktu dan kesempatan), relasi antara dokter dan pasien sering begitu minimal. Praktik “datang, periksa, suntik, selesai” – bisa menjadi gambaran betapa hal ini sulit terwujud.

Oleh karenanya juga, pelayanan menyeluruh dan maksimal yang menjadi idaman fungsi dokter keluarga menjadi mimpi yang masih terus ingin diwujudkan.

Kembali ke awal perbincangan. Pada dasarnya semua pasien memerlukan dokter mereka sendiri, yang bisa membantu pasien dalam masalah-masalah kesehatan mereka, dan dalam kasus-kasus tertentu seperti penyakit kronis yang memerlukan pengawasan dalam jangka panjang – seorang pasien akan jauh lebih mendapatkan manfaat ketika berada di bawah pengawasan dokter keluarganya, dibandingkan datang ke pelbagai dokter yang berbeda. Dan saya biasanya menyarankan mereka kembali untuk kontrol pada dokter keluarganya – jika mereka memiliki, dan menyerahkan pengantar yang diperlukan.

Dokter keluarga tidak harus dokter yang didaftarkan dalam program asuransi Anda, seperti dalam BPJS Kesehatan. Walau tentunya akan sangat besar manfaatnya ketika Anda bisa memanfaatkan program tersebut. Dokter keluarga sebaiknya Anda sendiri yang menentukan, sesuai dengan kesukaan dan pilihan Anda terhadap akses pelayanan kesehatan primer. Anda bisa memilih dari daftar dokter yang melayani layanan kesehatan primer dalam daftar dokter BPJS Kesehatan, atau dokter umum yang praktik mandiri. Anda harus bisa berkomunikasi dengan baik dan terbuka dengan dokter keluarga Anda, hal ini akan bermanfaat dalam pelayanan kesehatan yang berkelanjutan.

Nah, apakah Anda sudah memilih dan memiliki dokter keluarga Anda sendiri?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s