Asam Lambung Naik

Keluhan asam lambung naik, atau asam lambung tinggi, perih di ulu hati, kerongkongan terasa perih umumnya merupakan gejala dari asam lambung yang naik; yang dalam dunia kedokteran dikenal sebagai refluks asam atau gastro-esophageal reflux disease (GERD). Kadang kondisi ini disertai dengan peradangan pada kerongkongan, yang disebut esofagitis. Obat-obatan yang bermanfaat dalam mengurangi jumlah asam lambung biasanya bekerja dengan baik. Beberapa orang hanya memerlukan pengobatan jangka pendek, sedangkan lainnya mungkin memerlukan pengobatan jangka panjang.

Ketika kita makan, makanan menuruni kerongkongan menuju lambung. Sel-sel yang membatasi dinding lambung menghasilkan asam dan zat kimia lainnya yang membantu mencerna makanan. Sel-sel makanan juga membuat mukosa (lendir) yang melindungi mereka dari kerusakan karena asam. Sementara sel-sel yang melapisi kerongkongan berbeda, mereka memiliki hanya sedikit perlindungan terhadap asam.

Terdapat otot yang melingkar (sfingter) pada pertemuan antara lambung dan kerongkongan. Otot ini akan berelaksasi untuk membiarkan makanan turun, dan secara alami mengencang dan menutup area pertemuan lambung dan kerongkongan serta mencegah makanan dan asam balik ke atas (refluks). Sehingga bisa dikatakan, sfingter ini berfungsi sebagai katup.

Asam Lambung Naik
Pemahaman sederhana GERD. Sumber gambar: liberatehealth.us.

Tidak semua orang dengan refluks asam atau GERD mengalami esofagitis, bahkan belum tentu mereka yang sering mengalami refluks asam akan mengeluhkan gejala esofagitis.

Apa saja gejala asam lambung naik dan radang kerongkongan?

  • Perih di ulu hati. Sensasi terbakar/perih di batasan antara dada bawah dan perut bagian atas biasanya menjadi gejala utama. Kadang sensasi panas ini bisa menjalar dari dada bawah naik ke atas (dan ini bisa membingungkan dengan gejala yang berasal dari jantung).
  • Gejala umum lainnya adalah nyeri di perut dan dada, mual, mulut terasa pahit (rasa asam lambung), kembung, sendawa, susah/gangguan mencerna (dispepsia), dan rasa terbakar saat Anda meminum minuman panas. Seperti perih di ulu hati, gejala-gejala ini cenderung datang dan pergi, dan cenderung memburuk setelah makan.
  • Sedangkan gejala-gejala yang tidak umum (yang bisa saja muncul, dan jika muncul bisa mempersulit penegakan diagnosis, oleh karena menyerupai kondisi-kondisi lainnya), sebagai contoh:
    • Batuk yang menetap, yang khas kemunculannya pada malam hari. Hal ini karena asam lambung yang naik mengiritasi saluran napas (trakea). Gejala asma berupa batuk dan mengi kadang bisa disebabkan oleh asam lambung yang naik.
    • Masalah-masalah mulut yang lain kadang muncul seperti masalah gusi, bau napas, radang tenggorokan, serak, dan merasa ada benjolan di tenggorokan.
    • Kadang nyeri dada yang hebat bisa muncul (dan bisa salah duga sebagai serangan jantung).

Apa yang menyebabkan asam lambung naik dan siapa yang terkena?

Otot melingkar (sfingter) pada bagian bawah esofagus biasanya mencegah asam lambung bocor ke tenggorokan (refluks). Permasalahan muncul jika sfingter ini tidak berfungsi sebagaimana seharusnya. Ini adalah permasalahan umum, namun pada kebanyakan kasus penyebabnya tidak diketahui. Pada beberapa kasus, tekanan di dalam lambung/perut menjadi lebih besar dibandingkan yang bisa ditahan oleh sfingter – sebagai contoh misalnya, selama kehamilan, setelah makan kenyang, atau ketika menunduk ke depan. Jika seseorang menderita hernia hiatus (suatu kondisi di mana bagian dari lambung menonjol ke dada melalui diafragma), maka akan kemungkinan munculnya refluks semakin bertambah.

Kebanyakan orang mengalami asam lambung naik sesekali, mungkin pasca makan kenyang. Namun, sekitar 1 di antara 3 orang dewasa mengalami asam lambung yang naik setiap beberapa hari sekali, dan sekitar 1 di antara 10 orang dewasa setidaknya sekali sehari. Pada kebanyakan kasus, biasanya ringan dan segera hilang. Di sisi lain, juga cukup umum gejala ini muncul cukup sering atau parah sehingga cukup memengaruhi kualitas hidup seseorang. Asam lambung naik lebih umum pada perokok, wanita hamil, peminum berat, punya berat badan berlebih, atau yang kelebihan berat badan, dan mereka yang berusia di antara 35 – 64 tahun.

Pemeriksaan apa yang bisa dijalani?

Pemeriksaan penunjang umumnya tidak diperlukan jika penderita hanya memiliki gejala umum. Kebanyakan mereka yang mengalami asam lambung naik (GERD) ke kerongkongan (esofagus) biasanya didiagnosis dengan “kecurigaan GERD”. Pada situasi ini, penderita memiliki gejala yang umum dan membaik dengan terapi. Pemeriksaan penunjang biasanya disarankan jika gejala parah, atau tidak membaik dengan terapi, atau bukan jenis GERD yang biasa.

  • Gastroskopi (endoskopi) adalah tes yang paling umum. Sebuah teleskop tipis yang lentur dilewatkan di dalam esofagus menuju lambung. Sedemikian hingga dokter bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Jika esofagus menunjukkan tanda kemerahan, peradangan, maka diagnosis esofagitis dapat ditegakkan. Jika tidak tampak esofagitis, maka kemungkinan refluks tetap tidak bisa dikesampingkan.
  • Pemeriksaan keasaman di dalam esofagus juga bisa dilakukan jika diagnosis belum jelas.
  • Pemeriksaan untuk diagnosis banding disarankan jika gejala menyerupai kondisi lainnya, misalnya EKG untuk gejala yang menyerupai serangan jantung.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi keluhan?

Hal-hal berikut biasanya disarankan. Namun sedikit penelitian yang bisa membantu memberi gambaran seberapa baik perubahan gaya hidup bisa membantu mengurangi keluhan asam lambung naik.

  • Rokok. Zat kimia pada rokok melemahkan otot sfingter pada dasar kerongkongan dan cenderung membuat asam mudah mengalami refluks. Gejala bisa berkurang jika penderita berhenti merokok.
  • Beberapa makanan dan minuman bisa memperburuk kondisi refluks pada beberapa orang. Diperkirakan sejumlah makanan bisa mengendurkan otot sfingter dan asam lambung kemudian bisa mengalami refluks. Dan cukup sulit menentukan, seberapa makanan bisa memicu kondisi ini. Maka, biasanya menggunakan nalar adalah yang disarankan. Jika suatu makanan tampaknya memunculkan gejala, maka coba hindari makanan tersebut dan perhatikan apakah gejala membaik. Beberapa makanan dan minuman yang dicurigai bisa memperburuk keluhan pada beberapa orang termasuk tomat, cokelat, makanan pedas, minuman panas, kopi, dan minuman beralkohol. Juga, coba hindari makan dalam jumlah banyak.
  • Beberapa obat bisa memperburuk gejala. Mereka dapat mengiritasi kerongkongan atau melemahkan otot sfingter dan cenderung membuat refluks bertambah. Utamanya adalah obat-obat penahan nyeri golongan NSAIDs seperti ibuprofen atau aspirin. Yang lain termasuk diazepam, thephylline, nitrat, CCB seperti nifedipine. Namun ini bukan daftar lengkap, sehingga jika setelah Anda mengonsumsi obat lalu merasa gejala asam lambung naik muncul dan mengganggu, konsultasikan dengan dokter Anda.
  • Berat. Jika Anda memiliki berat badan berlebih, maka bisa memberikan tekenan berlebihan pada perut dan memicu refluks asam lambung. Menurunkan berat badan bisa mengurangi gejala.
  • Postur. Berbaring atau membungkuk yang terlalu banyak sepanjang hari bisa memicu refluks. Duduk membungkuk atau menggunakan ikat pinggang ketat pada perut juga menyebabkan tekanan berlebih pada perut dan bisa memicu refluks.
  • Waktu tidur. Jika gejala muncul kebanyakan pada malam hari, maka hal-hal berikut dapat membantu:
    • Tidurlah dengan perut kosong. Untuk ini, hindari makan tiga jam sebelum tidur, dan jangan minum setidaknya dua jam sebelum tidur.
    • Jika bisa, coba tinggikan posisi kepala sekitar 10-20 cm (misalnya dengan buku di kaki-kaki tempat tidur. Ini akan membuat gravitasi menahan agar tidak terjadi refluks esofagus. Jika ini sudah dilakukan, jangan menggunakan tambahan bantal, karena dapat meningkatkan tekanan di perut.

Apa saja pengobatan untuk asam lambung yang naik dan radang kerongkongan?

Antasida

Antasida merupakan larutan atau tablet alkali yang mengurangi jumlah asam. Dosis tunggal biasanya diberikan untuk menghilangkan keluhan dengan segera. Ada banyak merek yang bisa Anda beli. Anda juga bisa mendapatkannya melalui resep dokter. Anda dapat menggunakan antasida “seperlunya” untuk keluhan perih di ulu hati yang bersifat ringan atau tidak sering.

Obat-obat penekan asam

Jika gejala cukup sering, maka berkonsultasilah dengan dokter. Suatu obat penekan asam akan disarankan. Ada dua kelompok obat-obat penekan asam yang tersedia, yaitu golongan PPI dan Penyekat Reseptor Histamin (H2 blocker). Mereka bekerja dengan cara yang berbeda, namun sama-sama mengurangi (menekan) jumlah asam yang dibuat oleh lambung. PPI misalnya omeprazole, lansoprazole, pantoprazole, rabeprazole, dan esomeprazole. Kelompok Penyekat H2 misalnya cimetidine, famotidine, nizatidine, dan ranitidine.

Secara umum, PPI biasanya digunakan lebih dulu, oleh karena obat-obatan ini cenderung bekerja lebih baik dibandingkan Penyekat H2. Perencaan terapi awal yang umum adalah penggunaan dosis penuh PPI selama sebulan atau sekitar itu. Ini umumnya meredakan gejala dan membiarkan peradangan di kerongkongan hilang secara alami. Setelah ini, kadang yang diperlukan hanya antasida “seperlunya” untuk mengurangi asam lambung “ketika dibutuhkan”.

Namun, beberapa orang memerlukan terapi obat penekan asam harian jangka panjang. Tanpa obat, gejala mereka akan kembali dengan cepat. Terapi jangka panjang dengan obat penekan asam umumnya aman, efek samping tidak umum. Tujuannya adalah menjalani dosis penuh selama sebulan untuk meredakan gejala. Setelah ini, biasanya dosis dikurangi pelan-pelan sedemikian hingga bisa mencegah gejala muncul. Namun, ada kasus di mana beberapa orang akan tetap memerlukan dosis penuh setiap harinya.

Obat-obat prokinetik

Obat-obatan ini mempercepat lewatnya makanan di lambung. Mereka termasuk domperidone dan metoclopramide. Mereka tidak umum digunakan, namun membantu dalam sejumlah kasus, umumnya jika penderita memiliki keluhan perut kembung dan bersendawa.

Bedah

Operasi bisa dilakukan untuk “mengencangkan” esofagus bagian bawah dan mencegah asam “bocor” dari lambung ke esofagus. Secara umum, kesuksesan operasi ini tidak lebih baik daripada obat penekan asam. Namun, operasi bisa menjadi pilihan bagi mereka yang kualitas hidupnya terganggu secara bermakna oleh kondisi mereka dan terapi obat tidak bekerja dengan baik atau tidak menginginkan terapi obat jangka panjang.

Terdapat juga teknologi untuk menempatkan alat magnetik di sekitar esofagus bawah. Namun belum banyak penelitian tentang alat ini sampai sekarang, sehingga tidak banyak diterapkan.


Apa komplikasi dari esofagitis?

Peradangan yang berlangsung lama pada kerongkongan bisa menyebabkan sejumlah masalah. Misalnya terjadinya luka parut dan penyempitan (striktur) pada esofagus bawah, namun jarang terjadi. Kemudian bisa terjadi perubahan kondisi sel-sel pada dinding batas esofagus, yang dikenal sebagai Barrett’s esophagus; di mana sel-sel yang berubah ini cenderung bisa menjadi ganas. Sekitar 1 atau 2 orang dari setiap 100 orang dengan Barret’s esophagus kemudian muncul kanker esofagus. Tentunya komplikasi terakhir adalah kanker itu sendiri, walau kemungkinannya cukup kecil.

Tulisan ini diadaptasi dari informasi di patient.co.uk sedangkan ilustrasi video adalah milik Mayo Clinic. Jika ada pertanyaan seputar asam lambung yang tinggi, silakan menggunakan kolom komentar di bawah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s