Tata Laksana Infeksi Dengue di Layanan Kesehatan Primer

Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Dengue. Saat ini diketahui secara luas virus Dengue memiliki empat jenis serotipe: DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Infeksi oleh salah satu serotipe akan menimbulkan kekebalan (antibodi) terhadap serotipe tersebut, namun tidak untuk serotipe yang lainnya, sehingga seseorang dapat terinfeksi demam Dengue empat kali sepanjang hayatnya[1. Hiroshi Nishiura and Scott B. Halstead. Natural History of Dengue Virus (DENV)—1 and DENV—4 Infections: Reanalysis of Classic Studies. J Infect Dis. (2007) 195 (7): 1007-1013 doi:10.1086/511825].

Indonesia termasuk negara endemis untuk kasus-kasus demam dengue maupun demam berdarah dengue.

No. ICPC II : 97 Viral Disease other / NOS

No. ICD X : A90 Dengue Fever, A91 Dengue Haemorrhagic Fever

Penanganan kasus ini pada pelayanan kesehatan primer berada pada tingkat kemampuan 4A.

Pemeriksaan dan Konsultasi

Pasien umumnya datang dengan keluhan baik dengan ataupun tanpa manifestasi perdarahan. Demam bifasik akut 2-7 hari, nyeri kepala, nyeri retro-orbital, mialgia, atralgia, ruam, gusi berdarah, mimisan, neri perut, mual, muntah, hematemesis, dan dapat juga melena.

Sangat penting untuk mempertimbangkan hal-hal berikut sebagai faktor risiko:

  • Tinggal di daerah endemis dan padat penduduk.
  • Musim panas/kemarau (28 – 32 °C) dan kelembaban tinggi.
  • Banyak daerah dengan genangan air.

Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan tanda patognomonik untuk demam dengue:

  • Suhu badan > 37,5°C
  • Ptekie, ekimosis, purpura
  • Perdarahan mukosa
  • Uji rumpel leede (tornikuet) positif

Sedangkan untuk tanda patognomonik demam berdarah dengue adalah:

  • Suhu badan > 37,5°C
  • Ptekie, ekimosis, purpura
  • Perdarahan mukosa
  • Uji rumpel leede (tornikuet) positif
  • Hepatomegali
  • Spleenomegali
  • Terdapat tanda kebocoran berupa ditemukannya efusi pleura dan/atau ascites.
  • Hematemesis atau melena

Pada pemeriksaan penunjang bisa ditemukan:

  • Hitung darah lengkap umumnya menunjukkan leukopenia, peningkatkan hematokrit di atas 20% (dibandingkan normal, atau dibandingkan setelah pemberian cairan) sebagai tanda kebocoran plasma, serta ada trombositopenia (dalam hal ini nilai < 100.000 / ml) pada demam berdarah denguen.
  • NS1 menunjukkan hasil positif.

Untuk dapat menegakkan diagnosis klinis demam berdarah dengue, maka digunakan kriteria WHO yang memenuhi semua kriteria berikut:

  • Demam atau dirawayat demam aku, antara 2 – 7 hari, biasanya bifasik (pola pelanan).
  • Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut:
    • Uji bendung positif
    • Ptekie, ekomosis, atau purpura
    • Perdarahan mukosa atau perdarahan pada area lain
    • Hematesis atau melena
  • Trombositopenia dengan jumlah trombosit lebih rendah dari 100.000/μl
  • Terdapat minimal satu tanda kebocoran plasma berikut:
    • Peningkatan hematokrit > 20% dibandingkan standar sesuai dengan usia dan jenis kelamin.
    • Penurunan hematokrit > 20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya.
    • Tanda kebocoran plasma seperti efusi pleura, asistes, atau hipoproteinemia.

Klasifikasi

Derajat demam berdarah dengue diklasifikasikan ke dalam 4 derajat (pada setiap derajat telah ditemukan trombositopenia dan hemokonsentrasi) berdasarkan WHO 1997:

  • Derajat I: Demam disertai dengan gejala konstitusional yang tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan didapat dari uji bendung.
  • Derajat II: Derajat I yang disertai dengan perdarahan spontan pada kulit dan/atau perdarahan lain.
  • Derajat III: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lambat, tekanan nadi menurun ( 20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis, kulit dingin dan lembab.
  • Derajat IV: Syok/rejatan berat, nadi tidak teraba, tekanan darah tidak terukur.

Diagnosis Banding dan Komplikasi

Terdapat sejumlah diagnosis banding untuk demam dengue dan demam berdarah dengue, di antaranya adalah infeksi virus lain (influenza, chikungunya, zika, hepatitis, dan sebagainya); bisa juga didiagnosis banding dengan demam tifoid.

Komplikasi akhir pada kasus berat adalah Sindrom Rejatan Dengue (Dengue Shock Syndrome).

Terapi

Terapi sesuai dengan gejala yang muncul, sebagai contoh pada demam sebagai keluhan utama dapat diberikan antipiretik paracetamol sesuai dengan dosis dan keperluan. Obat-obat golongan antiinflamasi non-steroid sebaiknya dihindari, sebagai contoh aspirin[2. Suzanne Moore Shepherd, MD, MS, DTM&H, FACEP, FAAEM. Dengue Treatment & Management. Available online at URI: http://emedicine.medscape.com/article/215840-treatment].

Buku pedoman dari WHO mengenai pengelolaan kasus dengue dapat digunakan di layanan primer[3. WHO: Handbook for Clinical Management of Dengue. available at URI: http://www.wpro.who.int/mvp/documents/handbook_for_clinical_management_of_dengue.pdf%5D.

Pemeliharan cairan sirkulasi dengan memperbanyak asupan cairan atau melalui cairan intravena.
Pemeriksaan penunjang yang disarankan:

  • Darah rutin (complete blood count).
  • Hitung jenis leukosit
  • NS1 (non-spesific protein 1) pada lima hari pertama di wilayah endemis dengue.
  • IgG dan IgM anti-dengue setelah tiga hari pertama.
  • Serial hematokrit dan trombosit.

Memberikan konseling dann edukasi berupa:

  • Pemahaman kepada pasien dan keluarga tentang perjalanan penyakit dan bagaimana rencana pengelolaan pasien, sehingga pasien paham bahwa tidak terdapat obat (yang bersifat) terapeutik untuk infeksi virus dengue. Terapi yang diberikan lebih banyak bersifat dukungan (suportif) dan mencegah perburukan penyakit. Penyakit akan sembuh sesuai dengan perjalanan alamiah penyakit.
  • Perubahan/modifikasi gaya hidup, seperti:
    • Melakukan kegiatan 3M Plus di sekitar pemukiman.
    • Meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan melakukan olahraga secara rutin.

Contoh alur penanganan kasus dengue:

Penanganan kasus demam dengue. Sumber gambar: publichealthresources.blogspot.com.

Adapun kriteria rujukan untuk kasus dengue adalah:

  • Terjadi perdarahan yang banyak (masif) seperti hematemesis dan/atau melena.
  • Dengan pemberian cairan kristaloid sampai dosis 15 ml/kg/jam kondisi belum membaik.
  • Terjadi komplikasi atau keadaan klinis yang tidak lazim, seperti kejang, penurunan kesadaran, dan lainnya.

Prognosis

Pada umumnya prognosis adalah dubia ad bonam, dengan akhir kasus yang membaik tanpa komplikasi. Terkecuali terdapat kasus-kasus berat dengan komplikasi atau komorbid.

Sumber adaptasi: Permenkes no 5 tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis Dokter di Fasyankes Primer.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s