Empat Rantai Surveilans AFP

Kegiatan surveilans menjadi tulang punggung dalam upaya pemberantasan polio di semua negara di dunia. Tanpa adanya surveilans, tidak akan mungkin menunjuk di mana dan bagaimana penyebaran serta peredaran virus polio liar, atau memastikan ketika virus sudah dimusnahkan dari alam liar. Surveilans mengidentifikasi kasus-kasus baru, dan mendeteksi datangnya/tibanya polio liar di suatu wilayah.

Menemukan dan melaporkan anak-anak dengan AFP

Kait pertama pada rantai surveilans adalah staf pada semua fasilitas kesehatan – dari pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di masing-masing kecamatan, hingga ke rumah sakit – rumah sakit besar. Mereka harus secara aktif melaporkan setiap kasus lumpuh layuh mendadak (acute flaccid paralysis – AFP) pada setiap anak di bawah usia 15 tahun.

Sebagai tambahan, staf kesehatan masyarakat membuat kunjungan-kunjungan rutin ke rumah sakit – rumah sakit dan pusat-pusat rehabilitasi untuk mencari kasus-kasus AFP yang bisa jadi tidak acuhkan atau salah didiagnosis.

Pada area-area dengan sedikitnya pekerja kesehatan formal (berpendidikan formal), sejumlah negara menggunakan surveilans komunitas, di mana kader kesehatan, dukun, atau sukarelawan yang bisa menjadi sumber informasi pada anak-anak dengan paralisis.

Jumlah kasus AFP yang dilaporkan setiap tahun digunakan sebagai indikator kemampuan sebuah negara untuk mendeteksi polio – bahkan pada negara-negara di mana penyakit ini tidak lagi terjadi. Sistem surveilans oleh otoritas kesehatan sebuah negara bisa cukup sensitif untuk mendeteksi setidaknya satu kasus AFP dari setiap seratus ribu anak di bawah 15 tahun – bahkan ketika tidak adanya polio.

Mengirimkan sampel tinja untuk analisis

Pada tahapan awal, polio mungkin sulit dibedakan dari bentuk-bentuk paralisis flasid akut lainnya, seperti Sindrom Guillain-Bare, myelitis transversa, atau neuritis traumatik.

Semua anak dengan AFP – lumpuh layuh mendadak harus dilaporkan dan diuji untuk virus polio liar dalam 48 jam sejak onset, bahkan jika para dokter yakin pada dasar-dasar klinis bahwa anak tersebut tidak menderita polio.

Untuk menguji polio, spesimen-spesimen tinja dianalisis untuk keberadaan virus polio. Karena peluruhan virus beragam, dua spesimen – diambil 24-48 jam terpisah diperlukan.

Kecepatan sangat penting, oleh karena konsentrasi tertinggi virus polio di dalam tinja anak yang terinfeksi ditemukan pada dua minggu awal pasca onset paralisis.

Spesimen-spesimen tinja harus ditempatkan dalam wadah tersegel rapat dan disimpan sesegera mungkin dalam lemari pendingin atau dipaketkan dalam pak-pak es beku pada 4 – 8°C pada kotak pendingin, siap untuk diantarkan ke laboratorium.

Adanya penundaan atau paparan berkepanjangan terhadap panas pada perjalanan menuju laboratorium dapat menghancurkan virus. Spesimen-spesimen selayaknya sampai di laboratorium dalam 72 jam setelah pengumpulan. Jika tidak, sampel harus dibekukan (pada – 200°C), dan kemudian dikirimkan dalam kondisi beku, idealnya dipaketkan dengan es kering atau kantong dingin. Prosedur ini dikenal sebagai “reverse cold chain”.

Isolasi Virus Polio

Di dalam laboratorium, ahli virus (virologis) mulai tugas mengisolasi virus polio dari sampel-sampel tinja.

Jika virus polio telah diisolasi, maka langkah berikutnya adalah membedakan antara yang liar (ada dengan alaminya) dan virus polio terkait vaksin. Ini penting karena vaksin virus polio oral mengandung virus polio hidup yang dilemahkan dan menyerupai virus liar di dalam laboratorium. Jika virus polio liar diisolasi, virologis akan mengidentifikasi dua jenis virus liar yang masih bertahan yang terlibat. Virus polio liar tipe-2 tidak pernah tercatat lagi sejak 1999.

Memetakan Virus

Begitu virus polio liar diidentifikasi, tes selanjutnya dilakukan untuk menentukan dari mana strain mereka berasal.

Dengan menentukan bentukan genetis yang tepat dari virus, virus-virus liar bisa dibandingkan satu sama lain dan dikelompokkan ke dalam keluarga genetis yang mengarah pada area-area geografis yang jelas.

Urutan virus polio yang baru ditemukan diperiksa dengan bank data rujukan dari virus-virus polio yang telah diketahui, memberikan dugaan asal geografis virus yang baru ditemukan. Ketika polio telah ditunjuk pada sebuah area geografis yang tepat, maka akan mungkin mengidentifikasi sumber masuknya virus polio ke wilayah tersebut, termasuk jarak jauh atau menyeberangi perbatasan. Strategi imunisasi yang tepat bisa menentukan penyebaran lebih lanjut dari virus polio.

Informasi lebih lanjut dapat merujuk pada: polioeradication.org.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s