Leptospirosis di Layanan Kesehatan Primer

Leptospirosis bisa dikatakan salah satu penyakit yang waspadai kehadirannya di suatu wilayah. Penyakit zoonotik ini disebabkan oleh mikroorganisme Leptospira interogans. Ketika sejumlah orang terinfeksi leptospirosis, maka gambaran klinis yang ditampilkan dapat bermacam-macam, mulai dari infeksi yang tidak jelas hingga fulminan dan fatal.

Pada jenis yang ringan, leptospirosis dapat muncul seperti influenza dengan sakit kepala dan myalgia. Tikus adalah reservoir utama dan kejadian leptospirosis lebih banyak ditemukan pada musim hujan.

Berikut adalah tata laksana leptospirosis di layanan primer seperti puskesmas atau klinik pratama sesuai dengan panduan praktik klinis (Mboi, 2014).

Pada anamnesis umumnya akan muncul keluhan seperti demam, menggigil, sakit kepala, mialgia yang hebat pada tungkai (betis, paha) hingga pinggang disertai dengan nyeri tekan. Mual, muntah, diare dan nyeri abdomen, fotopobia serta penurunan kesadaran sempat dilaporkan.

Pemeriksaan fisik bisa didapatkan demam, ikterik, nyeri tekan otot, ruam pada kulit, limfadenopati, hepatomegali, splenomegali, edema, bradikardia relatif, sufisi konjungtiva. Dapat juga ditemukan gangguan perdarahan seperti petiki, purpura, epistaksis, dan perdarahan gusi. Kaku kuduk sebagai tanda meningitis juga bisa ditemukan.

Pemeriksaan penunjang laboratorium pada darah rutin akan memperlihatkan leukositosis relatif dengan pergeseran ke kiri, trombositopenia ringan pada sebagian pasien, dan dapat dikaitkan dengan kejadian gagal ginjal akut. Pemeriksaan urine menunjukkan adanya sedimen urine (leukosit, eritrosit, serta hialin atau granular) dan proteinuria ringan, jumlah sedimen eritrosit biasanya meningkat.

Secara klinis, kecurigaan ke arah leptospirosis umumnya diambil ketika pasien muncul dengan demam yang tiba-tiba, menggigil, terdapat tanda suffisi konjungtiva, sakit kepala, myalgia, ikterik, dan nyeri tekan pada otot.

Kemungkinan di atas akan meningkat jika ada riwayat bekerja atau terpapar dengan lingkungan yang terkontaminasi kencing tikus seperti sawah atau tegalan (Sakundarno, Bertolatti, Maycock, Spickett, & Dhaliwal, 2014), atau lingkungan yang terbukti melalui laboratorium merupakan daerah endemis zoonotik untuk leptospira.

Ketika memikirkan tentang leptospirosis, kemungkinan penyakit lain juga perlu dipertimbangkan seperti demam dengue, malaria, hepatitis virus, dan rikettsia misalnya.

Tatalaksana untuk kasus leptospirosis termasuk terapi suportif dengan pemantauan yang ketat untuk mendeteksi dan mengatasi seawal mungkin jika muncul kondisi dehidrasi, hipotensi, perdarahan dan gagal ginjal. Pemberian antibiotik dimulai sesegera mungkin. Pada kasus ringan, pilihan antibiotik oral seperti doksisiklin, ampisilin, amoksisilin atau eritromisin dianjurkan. Pada kasus berat, injeksi penisillin prokain menjadin pilihan.

Sejumlah komplikasi bisa terjadi dalam kasus leptospirosis, di antaranya adalah: meningitis, distres pernapasan, gagal ginjal (nekrosis tubular intersisial), gagal hati, gagal jantung.

Pencegahan leptospirosis dan proses surveilans yang baik sangat diharapkan bisa membantu mengurangi insidensi dan fatalitas kasus leptospirosis di suatu wilayah (WHO, 2014). Proses pencegahan menjadi sulit karena adanya banyak inang dan serotipe dari leptospira. Perlindungan diri adalah hal yang paling utama yang selayaknya disampaikan dan diingatkan secara berulang kepada kelompok masyarakat yang berisiko terjangkit leptospirosis. Menggunakan alat pelindung diri adalah suatu kesadaran mutlak yang harus dimiliki setiap orang.

Selain melindungi tubuh, melindungi bahan pangan juga tidak kalah pentingnya. Tikus gemar mencari tempat penyimpanan bahan pangan, mulai gudang beras hingga hidangan di atas meja. Masyarakat selayaknya diberikan kesadaran untuk selalu mengunci atau melindungi penyimpanan bahan pangan dengan baik. Tidak lupa kebersihan diri, dan kewaspadaan masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah yang potensi baik bagi kembang biak inang leptospira, dalam hal ini tikus. Di Yogyakarta misalnya adalah daerah-daerah yang dilalui aliran sungai (Nurbeti, 2012). Tentu saja masyarakat juga bisa diajak belajar mencegah penularan dan penyebaran leptospirosis (- et al., 2013).

Petugas kesehatan yang menemukan kasus dapat melaporkan langsung kepada dinas kesehatan setempat. Dan pasien leptospirosis kemudian dirujuk ke fasilitas pelayanan sekunder yang memiliki fasilitas hemodialisis setelah penegakkan diagnosis dan terapi awal.

 

Bacaan Pelengkap:

-, R., Heriyanto, B., Handayani, F. D., Trapsilowati, W., Pujiati, A., & Nugroho, A. (2013). STUDI PENCEGAHAN PENULARAN LEPTOSPIROSIS DI DAERAH  PERSAWAHAN DI KABUPATEN BANTUL,  DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. Vektora : Jurnal Vektor Dan Reservoir Penyakit, 5(1 Jun), 34–40.

Mboi, N. (2014). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 332–337. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Nurbeti, M. (2012). Kasus-Kasus Leptospirosis Di Perbatasan Kabupaten Bantul, Sleman, Dan Kulon Progo: Analisis Spasial. Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 10(1), XIV.

Sakundarno, M., Bertolatti, D., Maycock, B., Spickett, J., & Dhaliwal, S. (2014). Risk factors for leptospirosis infection in humans and implications for public health intervention in Indonesia and the Asia-Pacific region. Asia-Pacific Journal of Public Health / Asia-Pacific Academic Consortium for Public Health, 26(1), 15–32. https://doi.org/10.1177/1010539513498768

WHO. (2014). Leptospirosis. Excerpt from “WHO Recommended Standards and Strategies for Surveillance, Prevention and Control of Communicable Diseases,” 1–4.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s