Tata Laksana Kandidiasis Mulut

Kandidiasis mulut merupakan salah satu infeksi jamur pada manusia yang disebabkan oleh Candida albicans. Selain mukosa mulut, jamur ini juga bisa menyerang kulit dan organ lain (Mboi, 2014). Bayi juga bisa menderita infeksi ini, dan tertular saat proses dilahirkan, atau karena menggunakan dot bayi yang tidak higienis.

Candida albicans merupakan salah satu flora normal pada tubuh manusia dan dikenal sebagai “flora yang bermanfaat, ketika terjadi ketidakseimbangan, maka akan menyebabkan pertumbuhan berlebih Candida albicans yang dikenal sebagai kandidiasis (Singh, Verma, Murari, & Agrawal, 2014).

Keluhan utama penderita umumnya adalah mulut yang terasa gatal dan juga perih, terdapat kecapan sensasi/rasa logam, dan daya kecap secara umum mengalami penurunan. Mereka yang menderita penurunan daya tahan tubuh (imunodefisiensi) memiliki faktor risiko untuk terkena kandidiasis. Bahkan kandidiasis mulut juga digunakan sebagai kunci pada lesi mulut terkait HIV, dan menjadi penanda kecurigaan awal adanya infeksi HIV – karena penderita HIV mengalami penurunan daya tahan tubuh. Meskipun konsep ini masih menjadi perdebatan oleh karena tersedianya terapi antiretroviral yang sangat aktif (HAART) sehingga muncul pertanyaan apakah layak masih digunakan sebagai penanda bagi pasien yang sudah menjalani terapi; setidaknya kandidiasis sebagai penanda HIV masih cukup banyak digunakan saat ini (Patton et al., 2013).

Pada pemeriksaan fisik, akan ditemukan bercak merah dengan maserasi di daerah sekitar mulut, di lipatan (intertriginosa) dengan adanya bercak merah yang terpisah di sekitarnya. Dapat juga hadir sebagai plak-plak keputihan yang sering bisa dihapus, yang kemudian meninggalkan sisa area kemerahan yang dapat sedikit berdarah. Plak-plak ini bisa juga diselaputi oleh membran palsu (psudomembran) di sekitar mukosa mulut.

Plak keputihan ini dapat diambil karena merupakan ragi jamur, dan dapat diamati secara sederhana di bawah mikroskop dengan bantuan pelarut KOH 10%, atau dilihat setelah melakukan pewarnaan Gram. Tentu saja terdapat pemeriksaan lain yang bisa digunakan seperti kultur, hingga pemeriksaan imunologi dan genetis seperti ELISA dan PCR (Coronado-Castellote & Jim??nez-Soriano, 2013), namun pemeriksaan standar sudah cukup membantu dokter di layanan kesehatan primer.

Untuk menegakkan diagnosis, hasil pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana di atas sudah bisa menentukan adanya infeksi kandidiasis. Pertimbangan lain adalah adanya peradangan mukosa mulut yang disebabkan oleh virus atau bakteri, atau kemungkinan dari sejumlah kombinasi penyebab.

Jika infeksi kandidiasis menyebar ke saluran cerna, maka bisa menimbulkan komplikasi berupa diare akibat kandidiasis pada saluran cerna.

Penatalaksanaan kasus kandidiasis memerlukan konsep yang menyeluruh (perencanaan komprehensif). Mulai dari upaya perbaikan status kekebalan tubuh, seperti perbaikan gizi dan mengobati jika ada penyakit yang menyebabkan gangguan imunitas. Menjaga rongga mulut agar tetap higienis. Kemudian melakukan terapi terhadap kandidiasis mulut pada pasien itu sendiri. Serta melakukan edukasi akan sanitasi lingkungan.

Bagaimana pengobatannya? Dokter bisa menggunakan gentian violet 1% yang baru/segar dan bukan simpanan. Atau larutan nistatin (nystatin) 100.000 – 200.000 IU. Banyak juga yang memilih menggunakan Amphoterecin B. Sehingga Nistatin dan Amphoterecin B banyak digunakan untuk memerangi kandidiasis oral oleh karena kebergunaannya.

Namun jika akses terhadap fluconazole dalam bentuk suspensi oral, maka ini akan menjadi pilihan yang lebih baik. Pilihan ini diambil karena fluconazole memiliki sifat antijamur yang lebih baik, juga memiliki efikasi yang lebih baik dibandingkan obat lainnya. Sayangnya, obat ini tidak selalu berhasil, dan ketika resistensi/penolakan muncul terhadap fluconazole, dokter mungkin dapat mempertimbangkan antifungal lainnya seperti itraconazole atau ketokonazole (Garcia-Cuesta, Sarrion-Perez, & Bagan, 2014) dengan kewaspadaannya masing-masing.

Jika kandidiasis oral muncul dengan penyakit lainnya seperti HIV atau Diabetes, atau kandidiasis oral dicurigai akibat pengobatan jangka panjang menggunakan kortikosteroid pada kasus-kasus tertentu seperti PPOK, maka selayaknya dokter layanan kesehatan primer melakukan rujukan ke dokter ahli di layanan kesehatan sekunder.

Daftar Bacaan Lanjutan:

Coronado-Castellote, L., & Jim??nez-Soriano, Y. (2013). Clinical and microbiological diagnosis of oral candidiasis. Journal of Clinical and Experimental Dentistry, 5(5), 279–286. https://doi.org/10.4317/jced.51242

Garcia-Cuesta, C., Sarrion-Perez, M. G., & Bagan, J. V. (2014). Current treatment of oral candidiasis: A literature review. J Clin Exp Dent, 6(5), e576-82. https://doi.org/10.4317/jced.51798

Mboi, N. (2014). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 332–337. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Patton, L., Ramirez-Amador, V., Anaya-Saavedra, G., Nittayananta, W., Carrozzo, M., & Ranganathan, K. (2013). Urban legends series: Oral manifestations of HIV infection. Oral Diseases, 19(6), 533–550. https://doi.org/10.1111/odi.12103

Singh, A., Verma, R., Murari, A., & Agrawal, A. (2014). Oral candidiasis: An overview. Journal of Oral and Maxillofacial Pathology : JOMFP, 18(Suppl 1), S81-5. https://doi.org/10.4103/0973-029X.141325

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s