Tata Laksana Exanthematous Drug Eruption

Exanthematous Drug Eruption (erupsi obat eksantematosa)  adalah salah satu bentuk reaksi alergi ringan pada kulit yang terjadi akibat pemberian obat yang sifatnya sistemik (Kode  ICD 10: L27.0 Generalized skin eruption due to drugs and medicaments).   Obat yang dimaksud adalah zat yang dipakai untuk menegakkan diagnosis, profilaksis, dan terapi. Bentuk reaksi alergi merupakan reaksi hipersensitivitas tipe IV (alergi selular tipe lambat) menurut Coomb and Gell. Nama lainnya adalah erupsi makulopapular atau morbiliformis.

Umumnya pasien datang dengan keluhan gatal ringan sampai berat yang disertai kemerahan dan bintil pada kulit. Kelainan muncul 10-14 hari setelah mulai pengobatan. Biasanya disebabkan karena penggunaan antibiotik (ampisilin, sulfonamid, dan tetrasiklin) atau analgetik-antipiretik non steroid.

Kelainan umumnya timbul pada tungkai, lipat paha, dan lipat ketiak, kemudian meluas dalam 1-2 hari. Gejala diikuti demam ringan (subfebril), badan terasa tidak nyaman (malaise), dan nyeri sendi (atralgia) yang muncul 1-2 minggu setelah mulai mengkonsumsi obat, jamu, atau bahan-bahan yang dipakai untuk diagnostik (contoh: bahan kontras radiologi).

Ada sejumlah faktor risiko untuk kasus ini, di antaranya adalah riwayat konsumsi obat (jumlah, jenis, dosis, cara pemberian, pengaruh pajanan sinar matahari, atau kontak obat pada kulit terbuka), riwayat atopi dan keluarga, adanya riwayat alergi terhadap alergen lain, serta riwayat alergi obat sebelumnya.

Temuan klinis berupa erupsi makulopapular atau morbiliformis yang bisa jadi simetris dengan tempat predileksi pada tungkai, lipat paha, dan lipat. Pemeriksaan penunjang lebih lanjut umumnya tidak diperlukan pada kasus tanpa komplikasi (semisal eritroderma).

Sebagai diagnosis banding, morbili (campak) dapat dipertimbangkan jika di wilayah penderita merupakan wilayah endemis. Kemiripannya dengan kondisi campak menyebabkan juga dikenal sebagai morbiliform drug eruption.

Prinsip tatalaksana adalah menghentikan obat terduga. Pada dasarnya erupsi obat akan menyembuh bila obat penyebabnya dapat diketahui dan segera disingkirkan. Obat-obatan kortikosteroid sistemik seperti prednison, antihistamin sistemik, serta salisilat topikal dapat dipertimbangkan untuk membantu mengatasi reaksi erupsi obat.

Pasien dan keluarga diberitahu untuk membuat catatan kecil di dompetnya tentang alergi obat yang dideritanya, sedemikian hingga saat berobat ke fasilitas layanan kesehatan dapat menunjukan catatan tersebut kepada tenaga kesehatan. Pasien juga diingatkan bahwa ada kemungkinan hiperpigmentasi (warna kulit menjadi pucat) pada bagian bekas lesi ketika telah sembuh.

Pertimbangkan rujukan apabila lesi bersifat luas pada hampir seluruh tubuh termasuk area mukosa atau terdapat dugaan mengarah pada Sindrom Steven Johnson. Rujukan juga dipertimbangkan bila setelah terapi selama tujuh hari belum menunjukkan adanya perbaikan, atau justru terjadi pemburukan.

Progonosis pada umumnya baik jika tidak terdapat komplikasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s