Tata Laksana Fixed Drug Eruption

Fixed Drug Eruption (erupsi obat tetap) adalah salah satu jenis erupsi obat yang sering dijumpai ( ICD 10: L27.0 Generalized skin eruption due to drugs and medicaments).   Darinamanya dapat disimpulkan bahwa kelainan akan terjadi berkali-kali pada tempat yang sama. Mempunyai tempat predileksi dan lesi yang khas berbeda dengan Exanthematous Drug Eruption. FDE merupakan reaksi alergi tipe 2 (sitotoksik).

Ilustrasi Fixed Drug Eruption. Sumber gambar: http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMicm1013871 

Umumnya pasien datang keluhan kemerahan atau luka pada sekitar mulut, bibir, atau di alat kelamin, yang terasa panas. Keluhan timbul setelah mengkonsumsi obatobat yang sering menjadi penyebab seperti Sulfonamid, Barbiturat, Trimetoprim, dan analgetik.

Anamnesis yang dilakukan harus mencakup riwayat penggunaan obat-obatan atau jamu. Kelainan timbul secara akut atau dapat juga beberapa hari setelah mengkonsumsi obat. Keluhan lain adalah rasa gatal yang dapat disertai dengan demam yang subfebril.

Faktor risiko untuk kondisi ini antara lain adalah riwayat konsumsi atau penggunaan obat, riwayat atopi pada pasien dan keluarga, riwayat alergi pada alergen lainnya, serta ada riwayat alergi obat sebelumnya.

Temuan klinis pemeriksaan fiksi berupa tanda patognomonis khas berupa vesikel dan ruam, eritema, berbentuk bulat/lonjong (numular), kadang disertai dengan erosi, bisa muncul hiperpigmentasi pada tepinya (umum pada lesi yang muncul berulang). Lebih umum muncul pada lokasi predileksi seperti sekitar mulut (bibir), daerah penis atau vulva. Pemeriksaan penunjang lebih lanjut umumnya tidak diperlukan.

Penegakan diagnosis umumnya cukup melalui anamnesis dan temuan klinis pada pemeriksaan fisik. Beberapa diagnosis banding untuk kasus FDE di antaranya adalah pemfigoid bulosa, selulitis, herpes simpleks, dan steven johnson syndrome.

Pada prinsipnya, obat yang diduga menyebabkan FDE dihentikan. Jika hal ini dapat dilakukan, dan obat yang menyebabkan FDE dihentikan, maka erupsi obat akan membaik dengan sendirinya.

Sementara keluhan dapat dikurangi dengan terapi menggunakan kortikosteroid, antihistamin, serta terapi topikal yang menyesuaikan keadaan lesi. Jika lesi terjadi erosi kompres dengan larutan garam fisiologis dapat membantu, hingga erosi membaik.

Rujukan dipertimbangkan bila lesi bertambah, menyerang mukosa dengan kondisi yang buruk, atau mengarah pada kecurigaan sindrom Steven Johnson. Juga dipertimbangkan pada kasus yang tidak mengalami perbaikan setelah tujuh hari terapi.

Dikutip dari PMK nomor 5 tahun 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s