Menciptakan Proses Suntikan yang Aman

Suntikan merupakan salah satu prosedur medis yang paling umum secara global. Hampir setiap orang pernah disuntik, baik dengan tujuan pencegahan penyakit, pengobatan penyakit, ataupun terkait donor darah hingga menyelamatkan jiwa. WHO – Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan setiap tahun setidaknya ada 16 miliar suntikan (injeksi) diberikan di seluruh dunia, namun tidak semuanya aman.

Pemberian suntikan yang tidak aman misalnya ketika alat suntik digunakan lebih dari sekali, atau satu alat suntik dipakai bersama-sama. Suntikan yang tidak aman ini dapat menyebarkan penyakit yang mematikan seperti Hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV.

Di beberapa belahan dunia, alat suntik (syringe) dan jarum suntik (needle) hanya dicuci sebelum digunakan kembali. Situasi ini tentu saja tidak aman bagi penerima suntikan.

Sedemikian hingga WHO merekomendasikan bahwa semua suntikan harus menggunakan alat suntik dan jarum suntik yang baru dibuka dari wadah sterilnya – dan memiliki mekanisme dalam mencegah penggunaannya kembali. WHO juga merekomendasikan suntikan yang melindungi petugas kesehatan dari cedera untuk menjadikan setiap suntikan benar-benar aman.

Di beberapa negara, hingga 70% suntikan sebenarnya tidak diperlukan. Karena perlu diingat bahwa obat-obat yang diminum (per oral) juga bekerja sama baiknya dengan obat-obat yang disuntik. Pasien bisa jadi tidak memerlukan suntikan sama sekali. Pasien dapat bertanya pada tenaga kesehatan atau staf medis jika tersedia obat oral untuk menggantikan injeksi.

Pasien berhak mengetahui bahwa ketika mereka mendapatkan suntikan, jarum alat suntik yang digunakan merupakan alat suntik dan jarum yang baru, serta hanya dapat digunakan sekali saja. Baik tenaga kesehatan maupun pasien memiliki peran dalam menciptakan proses suntikan yang aman.

Petugas kesehatan atau manajer fasilitas layanan kesehatan dapat membuat kebijakan mengenai pemberian suntikan yang aman, serta menyediakan alat suntik yang aman (smart syringe). Sejumlah rekomendasi dapat diberikan misalnya semisal mulai dari persiapan hingga metode aseptik yang dapat berperan dalam pencegahan infeksi (Dolan, Susan A., 2016).

Tempat pembuangan alat dan jarum suntik pasca pemakaian juga selayaknya memenuhi standar keamanan. Sedemikian hingga aman bagi siapa pun, baik pasien, petugas kesehatan, maupun pekarya di lingkungan fasilitas layanan kesehatan.

Bibliografi:

Dolan, S. A., Arias, K. M., Felizardo, G., Barnes, S., Kraska, S., Patrick, M., & Bumsted, A. (2016). APIC position paper: Safe injection, infusion, and medication vial practices in health care. American journal of infection control44(7), 750-757. Tersedia melalui http://dx.doi.org/10.1016/j.ajic.2016.02.033.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s